Fashion di Tahun 2012, Indonesia Mulai dikenal Dunia Luar
Fashion di Tahun 2012, Indonesia Mulai dikenal Dunia Luar

Indonesia Mulai dikenal Dunia Luar

Usaha Indonesia untuk membuat fashion Indonesia lebih dikenal di dunia luar, diwakili oleh sepak terjang para desainer Indonesia yang telah menorehkan prestasi di pentas Internasional. Indonesia Fashion Week 2012 menghadirkan deretan desainer yang menginspirasi dalam sebuah fashion show bertajuk International Flair.


Empat desainer ternama Indonesia

Empat desainer tersebut yaitu Ardistia Dwiasri, Mardiana Ika, Ali Charisma dan Carmanita berbagi panggung di Plenary Hall pada show yang digelar tanggal 23 Februari 2012 pukul 20.00 WIB ini. Ardistia Dwiastri yang dikenal dengan labelnya Ardistia New York adalah salah satu desainer muda Indonesia yang telah dikenal di Amerika. 


Selain berhasil menjuarai berbagai kompetisi, busana karya desainer lulusan Parsons School of Designs, New York ini telah menghiasi berbagai majalah ternama dunia seperti Vogue, Harper’s Bazaar, Elle, New York Times dan Style.com.

 

Busana Ardistia yang chic, timeless, modern dan versatile bisa ditemukan di berbagai toko di Amerika, Eropa, Kanada, Timur Tengah dan Asia.  Untuk fashion show kali ini, Ardistia menghadirkan lanjutan koleksi Spring/Summer Collection 2012-13 dengan tema Contour Fluidity.

 

Koleksi ini terinspirasi dari konsep furniture karya Carlo Mollino, seorang arsitek sekaligus pembuat furniture Italia. Dengan cerdas, Ardistia mengambil aksen geometris dari karya tersebut ke dalam koleksi. Konstruksi yang detail dan material yang prima (sutera, crepe dan stretch tekno) menjadi kekuatan busana yang ditampilkan.

 

Teknik potongan geometris sentuhan romantis nan playful hasilkan look yang artistik namun fungsional jadikan busana itu everlasting. Jaket ringan melambai, body-wrap blouse, blazer potongan androgyny dengan multi-kerah, rok berstruktur dan jumpsuit dress tampil warna-warna light tan, burnt orange, peachy blush, dark fuchsia, hitam krom hingga creamy vanilla.


Desainer kedua yaitu Mardiana Ika dikenal sebagai desainer yang tergabung dalam The Hong Kong Fashion Designers’ Association (HKFDA) dan telah mengekspor karyanya ke 35 Negara. Desainer kelahiran Bali ini telah menorehkan banyak prestasi dengan labelnya Ika Butoni ini selalu mengemas kekayaan budaya Indonesia dengan kemasan yang modern dan global. 


Latar belakang dua budaya membuatnya terbuka pada hal-hal baru sehingga mempengaruhinya dalam eksplorasi desain. Dengan sumber inspirasi yang kaya, Ika rutin melakukan riset material, eksperimen bordir yang terus menerus dan mengikuti perkembangan teknologi terbaru. 


Busana Ika memiliki ciri khas simple namun dengan tambahan karya tangan seperti bordir, crochet, piping dan slashing. Kini Ika memiliki klien di seluruh dunia, mengeluarkan koleksi men’s wear. Di Indonesia Fashion Week 2012, Ika mengeluarkan koleksi Ika Butoni- 2012 Fall Winter Collection: Beauty and the Beast.  Koleksi ini menampilkan 2 pesona yang berbeda melebur menjadi satu yaitu Beauty berasosiasi pada elegansi yang berkelas penuh karisma dan Beast yang kasar, buas dan jahat.

 

Melalui koleksi ini, Ika ingin kita melihat lebih dalam dari apa yang terlihat di permukaan; melihat kecantikan dibalik kebuasan- The Beauty in The Beast. Padanan jaket dan rok yang berani dan beraksentuasi menggambarkan pengaruh alam yang liar sementara desainnya meng-highlight lekuk tubuh wanita yang estetik.

 

Garis merah yang menyimbolkan darah, muncul secara mencolok dengan paduan hitam dalam bentuk dress. Kombinasi warna hitam pekat dan putih tampil secara harmoni dengan visual yang dramatis. Dress hitam bersalur putih ditambah dengan bolero hitam pekat menampilkan tampilan yang berkarakter.

 

Teknik rumit dan detail yang artistik tampak jelas pada koleksi yang ditampilkan. Bahan yang dipakai adalah wool, kulit, jersey, sifon, prints, solid dan sintetis. Sepatu turut didukung oleh Esther Perez dan sepatu boots oleh Tegep Boots.

  

Carmanita adalah desainer elektik yang konstan mengolah kain tradisonal terutama Batik. Desainer lulusan Ekonomi dari Amerika ini tidak pernah berhenti berinovasi. Carmanita percaya bahwa sepotong kain kain Batik bisa terus berkembang karena sudah tidak adalagi batasan dalam proses membatik.

 

Karyanya berciri khas asimetris dengan permainan draperi. Mengemas karya lokal dengan selera global, membuat wanita ini berhasil meraih pasar internasional seperti Eropa, Amerika, Afrika hingga Jepang. 

 

Tema Cross Culture adalah tema yang diangkat Carmanita pada show ini. Sesuai namanya, Carmanita menggabungkan kekayaan budaya Indonesia, India dan Jepang. Tekstil batik bercampur dengan sari hingga shibori. Koleksi ini menggambarkan perkembangan momen dari buah pikiran Carmanita.

 

Desainer terakhir yang ikut berpartisipasi dalam show ini adalah Ali Charisma. Ali dikenal sebagai desainer yang sangat kreatif dan selalu menampilkan kejutan pada setiap shownya. Desainer yang telah mengekspor busananya ke banyak negara ini menciptakan busana yang unik namun tetap berdaya pakai.

 

Tidak heran karyanya begitu diminati di mancanegara. Secara konstan, perancang yang berbasis di Bali ini telah mengikuti berbagai pameran internasional. Fashion show-nya yang digelar di Hongkong Fashion Week, mendapatkan sambutan yang bagus dari media dan buyer.

 

Kali ini Ali menampilkan tema Longing for Greece. Tema ini terinspirasi dari wanita modern yang menampilkan mitologi Yunani kuno. Pada masa itu, wanita tampil elegan namun licik dan berbahaya layaknya ular.

 

Koleksi memiliki struktur arsitektur Yunani kuno dicampur dengan elegansi seorang dewi sehingga menampilkan paduan historis yang kuat antara lama dan baru. Siluetnya menggali pengaruh estetis pada masa itu. Material yang dipakai berpadu menciptakan keseimbangan; kulit yang diolah secara modern dan dramatis, tulle dan tekstil yang ringan.